@rereasti, a bookworm, arts adorer, crazy crafter, stupid traveler who always gets lost, and fiction writer in the making.

WARNING: I write everything, every - things. I mean it. really :)
November 24th
21:30

Editor in distress

Siapa bilang jadi editor itu gampang?? Mulai dari jadi editor makalah kelompok untuk tugas kuliah sampai editor cabutan untuk ngedit novel.

Yang sering gw alami adalah menjadi editor atau bagian bab analisis. Padahal gw kan gak pintar-pintar amat untuk disimpan di dua bagian itu, tapi juga gak bodoh-bodoh amat sehingga cuma bisa sekedar bikin latar belakang :P

Kenapa jadi editor itu gw bilang susah?

1. Dia harus paham betul masalah yang diangkat di makalahnya. Editor gak sekedar ngumpulin email kerjaan temen-temen yang masuk, tanpa diperiksa lalu disusun jadi makalah. Man, are you student or what? Editor harus paham apa yang dibahas dalam makalahnya, apakah pertanyaan penelitian sesuai dengan apa yang kita cari di makalah tsb? apa teori yang dipakai ternyata sesuai dengan masalah yang diangkat? sampai apa sumber yang dipakai di makalah itu benar-benar valid atau sekedar di copy-paste?

2. Dia harus baca semua kerjaan yang masuk (ini sudah pasti), mulai dari kerjaan orang yang tepat waktu sesuai deadline sampai harus terpaksa begadang nungguin kerjaan orang yang gak dikirim-kirim juga sambil menahan nafsu “sini deh gw yang kerjain aja.”

3. Dia jelas harus memahami bagaimana struktur karya ilmiah yang baik, makalah, apalagi untuk bahan kuliah jelas termasuk tulisan non fiksi, ilmiah, yang terstruktur.

4. Dia harus jeli mengedit kata-kata (terutama jika hasil kerjaan banyak orang yang berbeda-beda) yang dirasa kurang efektif, atau kasarnya, nggak enak dibaca. Bahkan harus sangat mengatur titik, koma, citasi dan margin etc. Nggak gampang loh, soalnya kalau kasusnya adalah editor makalah kelompok yang pengerjaannya dipecah-pecah untuk mengedit gaya bahasa satu orang dengan orang yang lain saja susah karena jelas berbeda.

5. Dia adalah orang yang paling dikejar-kejar deadline. Karena finishingnya ada di dia. Makanya kenapa gw kalo jadi editor selalu memberlakukan deadline 2 atau 3 hari sebelum deadline yang sebenarnya, karena biar gw ada waktu untuk mengirim hasil editan gw ke orang-orang untuk dicek ulang apa ada yang kurang atau ternyata ada yang penting tapi terpaksa gw cut. Jadi bisa diedit lagi.

6. Dia harus bisa menarik kesimpulan dari keseluruhan pembahasan yang dijabarkan dalam makalah. Ini juga berkaitan dengan poin nomor satu.

7. Dia harus (terpaksa) rela ditindas karena jika ada kritik atau celaan terhadap makalah yang sudah selesai dibuat dan kemudian dipresentasikan, yang pertama disalahkan adalah editornya. Selain ia juga terpaksa harus rela ditindas anggotanya sendiri yang suka ngirim-ngirim kerjaan super duper telat dari waktu yang sudah ditentukan. Seperti si editor nggak punya kerjaan lain saja.

8. Dia (kadang) harus kerja sendirian. Kurangnya staff yang ikut membantu karena anggota yang lain sudah kebagian porsi masing-masing dan seringnya mereka nggak ada yang rela tuh untuk diminta bantuan sekedar membaca ulang hasil editan pertama membuat editor lagi-lagi harus mengelus dada menghadapi ke-hectic-annya sendirian.

9. Dia harus siap makan hati kalau ternyata ada kerjaan yang asal banget. Saat kerjaan asal itu dikembalikan dan diminta untuk diganti, lagi-lagi, ia harus menahan diri habis-habisan kalau si orang yang mengerjakan memberikan seribu satu alasan kenapa mereka tidak bisa mengerjakan ulang. Mulai dari udah nggak di warnet, atau nggak nemu bahan, bahkan sampai alasan -yang menurut gw- bodoh banget, lagi nggak di depan laptop dan nggak enak kalo nggak ngerjain di laptop!! Padahal orang tersebut memakai SMART PHONE. Dijaman sekarang, teknologi harus dimaksimalkan. Ndeso!!

10. In some other cases, editor itu no pay. Seperti editor makalah, padahal yang dikeluarkan juga lumayan, tinta printer, kertas, menjilid, fotokopi. Kalau editor novel (komersil) ya dibayar, meskipun nggak sebanyak si penulis.

Jadi, siapa bilang jadi editor itu mudah? Kalau sekedar editor abal yang copy-paste sih mungkin saja, entahlah, belum pernah mencoba seabal itu. Terkesan mengeluh? Iya mungkin, gw memang mengeluh, karena please ini udah semester 7, tingkat akhir, mau lulus, mau UP, mau bikin skripsi, lah kok ngerjain makalah aja masih kayak anak semester 1 sih. Melepaskan tanggung jawab ke editor, berharap tangan emas editor bisa merubah kerjaan abal mereka menjadi masterpiece. Editor juga manusia dan mahasiswa -yang kebetulan- aktivis organisasi, hidup dia nggak sekadar menunggu email hasil kerjaan. Minimal apresiasi lah, nggak pernah minta dipuji, setidaknya tolong patuhi deadline yang sudah ditetapkan.

Kalau ada yang baca ini, apa dia kemudian tidak mau jadi editor ya??