rara avis: Kontemplasi Malam Ini
Apakah cinta itu butuh alasan?
Untuk kebanyakan orang, jujur, butuh. Terutama dalam mencapai proses mencintai itu, alasan-alasan lebih sering kita jadikan sebagai ukuran-ukuran untuk mengetahui apakah kita mencintai seseorang atau tidak. Takaran dalam penentuan cinta atau tidak. Aneh, kalau dipikir-dipikir. Padahal ketika mungkin sekarang kita ditanya oleh seseorang, cinta itu apa? Kita tidak bisa menjawab dengan pasti. Tidak seperti menjawab apa singkatan GDP atau siapa presiden kita saat ini. Pertanyaan ini sepertinya memiliki tingkat kesulitan yang hampir sama dengan pertanyaan, Tuhan itu siapa? Atau, apa itu kebahagiaan?
Memang gak salah untuk memberi alasan dalam mencinta. Cinta gak selalu harus kita persepsikan sebagai suatu objek. Mungkin cinta itu sendiri adalah sebuah proses. Proses yang beralasan. Bahkan kalau kita ingat, 6 tingkatan cinta Plato pun secara tidak langsung menjelaskan bahwa cinta itu sudah sepatutnya beralasan. Cinta itu bisa dinalarkan, dijelaskan. Layaknya teori Neo-Marxisme dan teori manipulasi informasi.
Pertama-tama, kita selalu terbuai oleh keindahan bagian partikuler dari tubuhnya. Mungkin kita menyukai rambut botaknya, atau badannya yang sedikit (bisa juga sangat) berisi, matanya yang besar sebelah atau bibirnya yang kecil. Lalu, di tingkatan kedua kita jatuh cinta dengan tubuhnya secara keseluruhan. Penampilan fisik secara holistik kita beri penilaian, kita apresiasi dan setelah itu kita memberi sugesti hati dan pikiran kita bahwa itu adalah keindahan. Bahwa apapun perasaan abstrak yang tidak bisa kita deskripsikan adalah apa yang mereka sering sebut cinta. Terlepas dari adanya makna sebenarnya dari sebuah kata.
Lalu kita merasa perasaan ini semakin asing. Terutama ketika kita sampai di sebuah dimensi dimana jiwa bertemu jiwa. Ketika kita mendapatkan kunci untuk masuk ke dalam jiwanya dan berkenalan mungkin dengan kepribadiannya yang tenang, auranya yang selalu membuat semua orang disekitarnya tersenyum, sensitifitas rasanya yang menyentuh, jiwanya yang menyeluruh. Tapi cinta tidak berhenti disini. Setiap perkenalan dengan ruang jiwanya yang baru, seakan-seakan memberikan kunci untuk membuka pintu-pintu disana yang sedang menunggu. Tapi tidak cinta tidak bisa menunggu. Cinta harus bertemu.
Semakin lama cinta yang kita rasakan pun diperkuat dengan pertemuan dengan mimpi-mimpinya yang tinggi, semangatnya untuk mengubah dunia, membangun Indonesia, dan menjadi harapan untuk semua. Pertemuan dengan pemikiran-pemikiran yang senada membuat kita entah kenapa, semakin mengafirmasi bahwa perasaan abstrak ini adalah cinta.
Apakah ini benar cinta? Atau cinta yang paling luhur itu adalah ketika cinta yang kita rasakan adalah cinta yang terjadi karena suatu pengalaman keindahan yang menyeluruh? Cinta yang termanifestasi dalam sebuah keutuhan dan kesatuan yang dapat membangunkan sisi kontemplatif terdalam untuk mencapai keindahan ilahiah tersembunyi? Apa mungkin cinta adalah yang suci, transendental, menyegarkan rohani, …Tuhan?
Mungkin.
Namun, kalau kita mengakui bahwa Tuhan itu cinta, bahwa di dalam cinta kita bisa menemukan Tuhan kita, kenapa kita masih membenci?
Kenapa kita masih harus membela Tuhan dan dengan alasan semua tertulis di buku suci kita membunuh, menghakimi, memarginalisasi dan merendahkan sesama?
-
Mungkin saat ini di dunia, cinta telah mati, dan tuhan pula telah mati.
-
rereasti reblogged this from rarasekar
-
fortmyers liked this
-
meismessy reblogged this from rarasekar
-
zarzen liked this
-
moonjour reblogged this from rarasekar
-
aiasekardini reblogged this from rarasekar
-
pinkyliacious reblogged this from rarasekar
-
prahesty liked this
-
chanisukotjo liked this
-
poporina liked this
-
lolakaban liked this
-
hhhesty liked this
-
iyo liked this
-
rarasekar posted this
